Wednesday, April 8, 2020

Methods of Scientific Thinking

Hai para peneliti muda, bagaimana kabar peneliti muda sekalian? Semoga semua dalam keadaan sehat serta selalu mengobarkan semangat meneliti. Sobat peneliti, sering kali dalam belajar meneliti, kita langsung dihadapkan pada metodologi penelitian, dimana biasanya kita akan banyak dibagikan konsep 'Kualitatif' atau 'Kuantitatif. Namun apa landasan pemilihan kedua metodologi tersebut? Pada kesempatan perdana ini penulis ingin membagikan hal mendasar yang perlu mendapat perhatian sebelum peneliti muda mulai merancang dan melakukan penelitiannya. Adapun konsep tersebut adalah Method of Scientific Thinking (MST). Lalu apa itu MST?


Sebelum membahas lebih jauh mengenai MST, pertama-tama penulis ingin menyadarkan sobat peneliti muda sekalian bahwa pada dasarnya, kita semua terlahir dengan jiwa peneliti yang sangat kuat. Sedari kecil, hal-hal yang kita temui sering menggelitik rasa penasaran kita untuk mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi, mengapa hal itu terjadi, atau bagaimana itu bisa terjadi, apa dampaknya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Rasa ingin tahu tersebut menjadi modal awal bagi kita untuk terjun lebih jauh dalam dunia penelitian.

Modal awal tersebut kemudian akan menjadi aset yang berharga ketika diolah dalam bingkai siklus MST. MST merupakan prosedur saintifik rasional yang menuntun peneliti dalam proses penelitiannya. Dengan mengikuti prosedur MST tersebut, seorang peneliti akan mampu melihat sebuah fenomena dan pendekatan penelitian yang kredibel untuk digunakan dalam menjawab masalah-masalah penelitiannya.




(Sumber: Materi Methods of Scientific Thinking, Semarang: Metiri Aromata Tifa Nusantara, 2019)


Terdapat 5 hal mendasar yang harus dipertimbangkan oleh peneliti berdasarkan siklus MST, yakni:

Social Context and Phenomenon
Hal dasar pertama yang harus dipertimbangkan oleh peneliti tentu saja konteks sosial dan fenomena yang terjadi dalam konteks tersebut. Fenomena yang serupa bisa saja terjadi pada konteks sosial yang berbeda, sehingga hasil pemaknaan fenomena yang sama tersebut tentu akan berbeda dalam konteks yang satu dan konteks yang lainnya. Sangat penting untuk diperhatikan oleh seorang peneliti bagaimana melihat konteks sosial yang ada di sekitarnya terutama dalam penentuan masalah penelitian yang akan dikaji. Terdapat tiga hal yang dapat dijadikan pertimbangan pendukung dalam penentuan masalah penelitian, yakni pilihlah masalah/fenomena yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi, keberlangsungan masalah/fenomena yang lama, dan memiliki nilai manfaat yang besar dan luas.

Philosophical Perspective
Perspektif filosofis merupakan hal kedua yang penting untuk ditentukan oleh seorang peneliti dalam merancang penelitiannya. Secara esensial, aspek-aspek filosofis yang hendaknya diperhatikan oleh peneliti adalah onlotogi (hasil apa yang didapatkan dari penelitian ini?), epistimologi (bagaimana nantinya hasil penelitian ini akan berkembang dan apa langkah yang dilakukan?), dan aksiologi (bagaimana kebermanfaatan hasilnya dalam jangka panjang?) dari penelitian yang akan dilakukan.

Paradigm Perspective
Selanjutnya, setelah menentukan perspektif filosofis dari penelitian yang akan dilakukan, seorang peneliti tidak dapat serta merta beranjak pada teori atau metodologi penelitian. Memikirkan paradigma apa yang akan dijadikan pendekatan melihat masalah/fenomena adalah langkah berikutnya. Sering kali para peneliti pemula belum menyadari paradigma-paradigma yang ada yang dapat menjadi acuan dalam pemilihan teori ataupun metodologi penelitiannya.Paradigma merupakan cara kita berpengetahuan atau sebuah keyakinan yang akan mengantarkan kita pada kebenaran ilmu pengetahuan. Biasanya seorang peneliti akan memiliki sebuah paradigma penelitian yang kuat dan didukung oleh paradigma penelitian lainnya. Secara umum ada beberapa paradigma pengetahuan yang ada, yakni positivism, post-positivism, constructivism, pragmaticism, interpretive, dan critical paradigm. Untuk detail paradigma penelitian akan dibahas pada postingan selanjutnya.

Theoretical Perspective
Setelah menentukan paradigma mana yang akan digunakan, barulah peneliti akan menentukan apakah akan menggunakan teori atau tidak. Setiap paradigma yang dipilih akan menentukan bagaimana teori akan diperlakukan dalam sebuah penelitian. Jika dalam paradigma positivism, teori digunakan secara deduktif, dimana landasan teoritis yang digunakan haruslah kuat sedari awal perencanaan penelitian. Teori-teori tersebut yang akan menjadi dasar pengembangan instrumen penelitian dan pembahasan hasil penelitiannya. Berbeda halnya jika paradigma yang dipilih adalah paradigma constructivism, dimana teori diperlakukan induktif. Peneliti dapat langsung mengumpulkan data ke lapangan dan langsung mengamati fenomena yang ada.

Methodological Perspective
Penentuan metodologi adalah hal mendasar terakhir yang harus dipertimbangkan dengan baik oleh peneliti. Penentuan metodologi tentu didasari pula oleh paradigma yang digunakan dalam memecahkan suatu masalah/fenomena. Paradigma positivism akan mengarahkan peneliti pada metodologi quantitative, post-positivsm pada quasi-qualitative, constructivism dan critical paradigm pada qualitative, interpretive pada post-qualitative, dan pragmaticism pada mixed-methods.

Demikian penjelasan singkat mengenai MST yang dapat sobat peneliti muda jadikan pertimbangan dalam penyusunan peenelitian yang berkualitas. Semoga dapat bermanfaat.

8 comments:

  1. Bagus... video lucu dengan penjelasan yg detail ttg makna filosofinya

    ReplyDelete
  2. informasi yang sangat bermanfaat untuk para pelajar atau peneliti

    ReplyDelete
  3. Hmmm... Penyampaiannya mudah dipahami

    ReplyDelete
  4. menarik dan informatif....makasih Mbak Surya telah berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih untuk selalu mengikuti postingan blog saya, Bu ^^

      Delete

Hello...!

My photo
Surya Mahayanti is an assistant professor in English Language Education, Ganesha University of Education. Her interests of research are in English education. She is a Ph.D candidate in Yogyakarta State University who focuses her study in ICT integration in English Language Education.